Saturday, May 31, 2014

Resep masakan Indonesia - ayam bumbu bali kaya rempah

Resep masakan Indonesia - ayam bumbu bali kaya rempah
Ayam Bumbu Bali Kaya Rempah Resep Ayam Bumbu Bali Kaya Rempah

Resep Ayam Bumbu Bali Kaya Rempah – Ayam sudah menjadi bahan masakan favorit yang mudah diolah dan dijadikan aneka variasi masakan. Salah satu masakan khas Indonesia yang kental dengan berbagai rempah-rempah yang kuat adalah bumbu bali.

Yuk kita buat ayam bumbu bali rumahan yang nikmat dengan resep berikut ini.

Bahan:
1 ekor ayam, potong 16 bagian
700 ml air
1 sendok teh gula pasir
3 lembar daun salam
2 sendok teh garam
1/4 sendok teh merica bubuk
3 sendok makan minyak untuk menumis

Bumbu Halus:
6 buah cabai merah besar
8 buah cabai merah keriting
10 butir bawang merah
4 siung bawang putih
1 sendok teh terasi, dibakar
1 buah tomat

Cara memasak:
1. Panaskan minyak. Masukkan bumbu halus dan daun salam, tumis hingga harum.

2. Masukkan ayam. Aduk hingga berubah warna.

3. Tambahkan garam, gula, dan merica. Aduk rata.

4. Tambahkan air.

5. Masak hingga matang dan meresap.

 Resep masakan Indonesia - ayam bumbu bali kaya rempah

Monday, January 20, 2014

Terapi Kanker, Obat Tradisional Hanya Komplementer

Terapi Kanker, Obat Tradisional Hanya Komplementer

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Kanker bukan penyakit mendadak. Apabila ditemukan dalam stadium dini, kanker bisa disembuhkan. Karena itu, apabila sejak awal diketahui menderita kanker, langsung dilakukan tindakan medis dan jangan pergi ke pengobatan alternatif.
''Karena sudah banyak kasus yang terbukti, pasien datang ke dokter sudah terlambat. Padahal sebetulnya pasien sejak awal diketahui menderita kanker, tetapi mencoba dulu ke pengobatan alternatif dan kembali lagi ke dokter sudah  stadium lanjut,'' kata Wakil Ketua II Yayasan Kanker Indonesia DIY, Anglingkusumo, pada saat pelatihan relawan kanker di Auditorium YKI DIY, baru-baru ini.
Anglingkusumo mengakui semakin banyak kasus kanker di Indonesia semakin marak komoditi yang ditawarkan seperti ramuan, pembalut, pakaian, atau sarana lainnya yang kalau dipakai bisa menyebabkan seseorang bebas kanker. Hal itu tentu saja hanya untuk kepentingan bisnis dan  tidak benar, tuturnya.
Ramuan obat tradision al hanya sebagai komplementer (pelengkap), bukan sebagai pengganti pengobatan medis. ''Kalau obat tradisional sebagai komplementer tidak dilarang, asal dengan syarat jangan tinggalkan medis dan tidak bertentangan dengan medis,''kata pengurus YKAI DIY Sutaryo menambahkan.
Sementara itu  Indwiani Astuti dari Bagian Farmakologi dan Terapi Fakultas Kedokteran UGM mengungkapkan tidak semua tanaman obat sebagai antikanker aman bagi penderita kanker, karena bisa merusak ginjal. Obat kanker yang sudah diuji melalui berbagai penelitian pun penggunaannya juga harus tepat dosisnya.

Sunday, January 19, 2014

Bawang Putih Sumbang Deflasi Tertinggi di Sulsel

Bawang Putih Sumbang Deflasi Tertinggi di Sulsel

MAKASSAR - Indeks harga konsumen Sulsel sepanjang April 2013 mengalami deflasi 0,12 persen. Deflasi ini adalah yang pertama sepanjang tahun, dan komoditi bawang putih merupakan penyumbang deflasi tertinggi mencapai 0,1619 persen.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sulsel Nursam Salam mengatakan, kelompok bahan makanan merupakan yang terbesar menyumbangkan deflasi di daerah ini. Selain bawang putih, daging ayam ras, ikan teri basah, cabe merah, kacang panjang dan kol putih juga menyumbang deflasi.
Namun masih ada beberapa komoditi bahan makanan yang menyumbang inflasi, salah satunya bawang merah sebesar 0,1326 persen. "Harga bawang merah memang masih bertahan tinggi tapi tidak semahal saat pertama naik, sementara harga bawang putih sudah mulai menurun," kata Nursam, di Makassar, Rabu (1/5/2013).
Sepanjang April 2013 ini, sebanyak 28 kota di Indonesia mengalami inflasi sementara 38 kota lainnya deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di kota Padan g Sidempuan sebesar 0,81 persen sedang deflasi tertinggi terjadi di kota Maumere sebesar 1,20 persen.
Khusus Sulsel yang merupakan gabungan empat kota yakni Makassar, Palopo, Parepare dan Watampone deflasi mencapai 0,12 persen dengan indeks harga konsumen sebesar 138,84. Sedangkan Makassar sebagai ibu kota provinsi mengalami deflasi sebesar 0,10 persen.
Sementara itu, perdagangan di Sulsel masih fluktuatif. Hasil ekspor Sulsel sepanjang Maret 2013 menurun 9,94 persen dibandingkan dengan ekspor Februari 2013. Namun jika dibandingkan Maret 2012 lalu, ekspor Sulsel malah tumbuh 49,99 persen.
Lima terbesar komoditas ekspor Sulsel pada Maret adalah nikel, kakao, ikan, undang dan kepiting, biji-bijian berminyak, tanaman obat dan kayu serta barang dari kayu. "Untuk negara tujuan ekspor terbesar masih ke Jepang dengan nilai USD75,12 juta," tutur Nursam.
Secara total nilai ekspor Sulsel pada Maret mencapai USD120,92 juta. Sedangkan nilai impor USD59,90 jut a. Besarnya nilai impor itu juga mengalami penurunan jika dibandingkan Februari sebelumnya, begitu juga jika dibandingkan Maret 2012 lalu, terjadi penurunan sebesar 11,60 persen. (wan) (Rahmat Hardiansya/Koran SI/wdi)

Saturday, January 18, 2014

Wisata Obat Herbal di Kalibakung Tegal

Wisata Obat Herbal di Kalibakung Tegal

<!-- HomeBisnisIndustri-->

TEMPO.CO, Tegal--Tanaman obat keluarga (toga) tidak hanya bermanfaat untuk diolah menjadi jamu. Di Desa Kalibakung, Kecamatan Balapulang, Kabupaten Tegal, toga juga dapat menjadi daya tarik wisata, yaitu wisata kesehatan jamu (WKJ) Kalibakung.
Di areal seluas 2,5 hektare di lereng Gunung Slamet itu, 245 jenis toga ditata menjadi taman yang rimbun. Gerbang melengkung dirambati tanaman markisa dan kuku bima menyambut pengunjung. Di tengah taman, terdapat kolam berair jernih yang dikelilingi jalan setapak dari batuan kali.
"Meski baru diresmikan Februari lalu, taman ini sudah sering menerima kunjungan, baik dari siswa sekolah atau kelompok PKK (pembinaan kesejahteraan keluarga)," kata salah satu apoteker di WKJ Kalibakung, Nur Rahmawati, Jumat (3/5).
Selain taman toga, WKJ Kalibakung juga melayani pasien pengobatan herbal. Layaknya rumah sakit mungil, di WKJ tersebut tersedia ruang pendaftaran, ruang tunggu pasien, ruang periksa. Bedanya, peranan apotek di WKJ digantikan oleh keberadaan griya jamu.
Setelah mengidentifikasi penyakit yang diderita pasien, dokter yang bertugas jaga akan langsung berkoordinasi dengan apoteker. Selanjutnya, para asisten apoteker bergegas menyiapkan racikan jamu yang terdiri dari bermacam ramuan.
Dari sekian banyak ramuan yang disiapkan dalam seratusan toples plastik, yang paling sering digunakan antara lain daun kumis kucing, temu ireng, daun seledri, pulasari, rosella, tapak liman, kayu putih, daun pepaya, temulawak, legundi, cengkeh, brotowali, secang, hingga lengkuas.
"Cukup Rp 15.000 saja untuk satu ramuan jamu," kata Suwarno, 62 tahun. Warga Desa Banjaranyar, Balapulang, Tegal itu mengaku baru pertama kali datang ke WKJ Kalibakung. "Kaki sering kesemutan. Sudah sering minum obat kimia tapi tidak kunjung sembuh juga."
Keluarga pasien yang lain, Ramsid, 32 tahun, mengatakan ibu kandungnya sudah tiga bulan men jalani terapi herbal di WKJ Kalibakung. "Ibu stroke sejak dua tahun lalu. Dengan rutin meminum seduhan jamu, badannya jadi lebih bugar," ujar warga Jatiwangi, Pagerbarang, Tegal itu.
Mengolah racikan jamu menjadi obat herbal sangat mudah. Seluruh ramuan tinggal direbus dengan api kecil selama 15 menit. ?Diamkan hingga hangat. Airnya diminum tiga kali sehari. Merebusnya pakai panci tanah liat, porselen, atau baja anti karat,? terang Nur.
Nur menambahkan, selama ini ramuan dipasok langsung dari balai besar penelitian dan pengembangan tanaman obat dan obat tradisional di Jalan Raya Lawu, Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah. "KWJ Kalibakung masih sebatas menanam toga. Rencananya, akan segera dibangun gedung pasca-panen untuk mengolah hasil kebun."
DINDA LEO LISTY


Kimia Farma Ekspor Obat Herbal Kumis Kucing ke 2 Negara

Kimia Farma Ekspor Obat Herbal Kumis Kucing ke 2 Negara

Kimia Farma Ekspor Obat Herbal Kumis Kucing ke 2 Negara
Tahun ini bisa dibilang momentum bagi PT Kimia Farma Tbk (KAEF), produsen farmasi untuk gencar mengembangkan obat herbal berstandar. Penyebabnya karena permintaan obat berbahan alami terus tumbuh, bukan saja di pasar domestik tapi juga di luar negeri.
Direktur Utama Kimia Farma, Rusdi Rosman mengaku, pihaknya berencana mengekspor obat herbal berbahan baku tanaman kumis kucing atau disebut juga orthosipon.
"Obat ini akan bermanfaat memperlancar buang air kecil, mengobati batu ginjal, diabetes dan sebagainya," ungkap dia saat dihubungi Liputan6.com, baru-baru ini.
Saat ini, lanjut dia, BUMN farmasi tersebut telah menanam tanaman kumis kucing seluas 5 hektare (ha) di hamparan perkebunan milik perseroan yang mencapai 1.000 ha.
"Masa tanam kumis kucing selama 3 bulan, dan setelah dipetik, lalu dikeringkan, tanaman itu akan dikirim langsung ke luar negeri," paparnya.
Rusdi mengaku, Inggris dan Korea merupakan dua negara ya ng tertarik untuk mengekspor obat herbal produksi perseroan.
"Sudah ada permintaan dari Inggris dan Korea. Jadi kalau mereka cocok dengan kualitas tanaman kumis
kucing kami, maka kami bakal langsung produksi obat herbal tersebut," jelasnya.
Kebutuhan kedua negara tersebut terhadap obat orthosipon, menurut dia, sangat besar mencapai 40 ton per tahun.
Sebelumnya, perseroan berniat meluncurkan obat herbal dengan dua manfaat sekaligus, yaitu mengobati diabetes dan kolesterol dalam satu item pada Agustus 2013.
Obat berbahan dasar buah pala ini diklaim sebagai yang pertama di tanah air karena diproduksi dengan sesuai standar.
"Selain obat herbal, kami juga akan merilis 23 jenis obat, diantaranya obat kanker 11 item dan masih banyak lainnya," tukasnya.
Pengembangan ini, dinilai Rusdi untuk mengejar target penjualan yang dipatok sebesar lebih dari Rp 4 triliun sepanjang tahun 2013, naik dari tahun lalu sebesar Rp 3,73 triliun.
"Seda ngkan pada tutup tahun ini, laba bersih diharapkan mencapai 5,5% dari incaran total pendapatan," pungkas dia.
Jika dihitung, Kimia Farma menargetkan keuntungan setelah pajak hingga akhir Desember ini sekitar Rp 220 miliar atau merangkak naik dibanding realisasi sebelumnya Rp 205,13 miliar. (Fik/Nur)

Meski Alami, Obat Herbal Juga Punya Efek Samping

Meski Alami, Obat Herbal Juga Punya Efek Samping

Meski Alami, Obat Herbal Juga Punya Efek Samping Liputan6.com, Peneliti herbal dan obat tradisional dari Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Prof Dr Mangestuti Apt MS mengharapkan pembuatan dan pemakaian jamu tetap mengikuti kaidah kefarmasian, seperti pemilihan bahan baku, cara pembuatan, aturan pemakaian dan peringatan efek samping yang mungkin timbul.
"Kita harus tetap waspada bahwa obat dari bahan alam itu bukannya tanpa efek samping, misalnya, apabila dikonsumsi oleh ibu hamil dan menyusui," tutur Kepala Perpustakaan Unair Surabaya itu seperti dikutip Antara, Senin (22/4/2013).
Baginya, pengembangan obat herbal yang sangat potensial itu perlu satu syarat yakni penataan menjadi obat herbal terstandar dan fitofarmaka, sehingga obat herbal akan semakin banyak yang teruji dan masyarakat pun aman.
"Kalau pemerintah mengembangkan penataan obat herbal menjadi obat herbal terstandar dan fitofarmaka, maka penyediaan obat herbal terstandar dan fitofarmaka di apotek dan toko obat pun akan semakin berkembang," ujarnya.
Selain itu, penataan penyediaan bahan herbal terstandar di tempat penjualan umum juga diperlukan untuk menghasilkan jamu yang makin berkualitas.
Contohnya adalah berbagai jenis empon-empon yang banyak dipakai sebagai bahan baku ramuan jamu Madura. Penelitian membuktikan khasiat empon-empon yang luar biasa. Misalnya, kunyit sebagai antiradang dan analgesik.
Bahkan hasil penelitian juga menunjukkan kandungan zat empon-empon yang berkhasiat sebagai antioksidan yang bisa mencegah kerusakan sel.
Keseriusan pihak pemerintah dalam menyelenggarakan obat herbal terstandar dan fitofarmaka dapat dibandingkan dengan langkah Pemerintah Jepang dalam mengembangkan obat tradisional mereka.
"Peran serta pemerintah Jepang itu membuat industri obat tradisional Jepang berkembang dengan dukungan dokter. Peran Kementerian Kesehatan sudah sangat serius, antara lain melalui berbagai penelitian yang dikembangan di pusat penelitian di Tawangmangu dan institusi penelitian di perguruan tinggi," tukasnya.
Namun, anggaran pemerintah perlu senantiasa ditingkatkan untuk mendukung penelitian tanaman obat sebagai bahan obat herbal terstandar dan fitofarmaka. (Abd)

Surga pecinta hewan dan tanaman di Yogyakarta (1)

Surga pecinta hewan dan tanaman di Yogyakarta (1)

Anda penggemar hewan peliharaan atau pecinta tanaman hias, dan kebetulan sedang berkunjung ke Yogyakarta? Tak ada salahnya mampir ke Pasar Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTY) yang lokasinya di Jalan Bantul Km 1. Di lahan seluas 3 hektare ini, terdapat sekitar 200 pedagang yang menjual aneka satwa dan tanaman hias.
Pasar ini terbagi menjadi tiga zona, yaitu zona satwa, zona tanaman hias, dan zona ikan hias. Kios-kios tertata rapi dalam masing-masing blok, sesuai jenis hewan dan tanaman yang dijual. Meski disebut pasar, namun kondisinya teratur, bersih dan tidak becek, lantaran jalan setapak antar kios menggunakan paving block.
Pasar ini tertata rapi sejak 2011. Sebelumnya, para pedagang ini berjualan di pinggiran Jalan Ngasem, tak jauh dari lokasi sekarang.
Hampir semua jenis hewan ada di pasar ini, mulai dari aneka jenis burung, ayam, anjing, kucing, serangga hingga ular piton. Ada pula kios yang khusus menjual kelengkapan hewan peliharaan, seperti pakan, obat-obatan, dan kandang. Bahkan, di zona ikan hias, juga bisa ditemukan kios penjual umpan memancing.
Di zona tanaman, Anda bisa berburu mulai dari tanaman kamboja, beragam jenis anggrek, tanaman buah dalam pot (tabulampot) hingga tanaman obat.
Pengelola pasar ini juga menyiapkan instalasi air siap minum tepat di dekat pintu masuk, sehingga pengunjung bisa minum gratis. Jika membawa kendaraan pribadi, entah mobil atau motor, jangan khawatir, pengelola PASTY menyiapkan lahan parkir yang cukup luas.
Salah satu pemilik kios ayam hias di PASTY, Suyono menuturkan, selain jualan, ia memberikan konsultasi bagi pelanggan soal cara memelihara ayam. "Karena pedagang di sini ramah dan jualannya lengkap, pengunjung selalu ramai," ujarnya.
Memang, ketika KONTAN mengunjungi pasar ini, pengunjung sangat padat. Maklum, hari itu bertepatan dengan hari minggu. Tidak hanya para pecinta binatang yang memadati PASTY, tapi juga anak-anak kecil. Selain berburu hewan favorit, anak-anak bisa bermain sekaligus belajar spesies hewan di sini.
Memang, di sini terdapat kandang besar semacam etalase. Di situ, beberapa hewan istimewa dipajang seperti kura-kura raksasa dan ular piton seberat 100 kg. "Ini menjadi tontonan menarik. Bahkan, ada pengunjung yang menawar ular itu Rp 25 juta," kata Rusditanto, pemilik kios Los Buris.
Ramainya pengunjung tentu membawa berkah bagi para pedagang. Rusditanto mengaku, bisa mengantongi omzet Rp 15 juta per bulan. Suyono menambahkan, saban bulan, ia bisa meraih omzet Rp 9 juta. Bahkan, ketika musim liburan, atau ada jenis ayam atau burung yang sedang naik daun, omzetnya bisa melambung hingga Rp 25 juta.
Sementara Sri Mulyani yang jualan tanaman hias mengaku bisa meraup omzet Rp 10 juta-Rp 30 juta per bulan. (Bersambung)
 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Hot Sonakshi Sinha, Car Price in India